Deklarasi Suara Hati

haruskah aku deklarasikan suara hati ini? suara hati di mana aku merasakan kekecewaan yang amat sangat mendalam. suara hati di mana tubuhku melemah setiap menyaksikan pandangan itu. suara hati di mana telingaku panas setiap mendengar namanya. suara hati di mana nyawaku hampir tak berada di raga ini.

haruskan aku deklarasikan kekecewaan ini? jujur, aku baru merasakan kehadiranmu sebagai seorang kakak. seorang kakak yang menyayangi adiknya, memberinya nasihat, menegurnyaa ketika salah, tersenyum bangga, tertawa, dan kehangatan lainnya. namun, aku harus sadar, bahwa kau tak selamanya berada di sisiku. ada saatnya kau menjadi pembimbing bagi wanitamu. AKU TAK SIAP AKAN HAL ITU!!

kau bilang, "kita tak ada hubungan apa-apa". kau bilang, "aku akan menikah ketika kau sudah bekerja". kau bilang, "aku jadi tak enak hati. ibu menolak, kau juga menolak". namun, ketika aku melihat kau memanggilnya "sayang", hancur sudah reputasiku.

maaf saja. bukan aku tak menyukainya. bukan aku melarangmu bersamanya. hanya saja, AKU TAK SIAP UNTUK ITU!!

HARUSKAH AKU DEKLARASIKAN SUARA HATI INI?

aku tahu, kau bukannya peramal. kau bukanlah pembaca isi hati. namun yang kuharapkan adalah, kau sadar akan perubahan sikapku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumpukan Tulisan Berdebu