Tumpukan Tulisan Berdebu

Bu, aku rindu padamu. Entah berapa lama aku mengabaikanmu. bukan, aku bukan mengabaikanmu. kekuatanku mengalirkan kata-kata hilang entah sejak kapan. aku ingin kekuatanku kembali. aku jauh tertinggal dari teman-temanku. mereka yang dulu bersama-sama bertekad ingin menjadi seorang penulis. aah, entahlah. aku merasa jauh tertinggal. apakah benar? teman, maukan kau menungguku bangkit kembali?






bu, kau masih kenal aku, kan? gadis yang selalu menunduk ketita berjalan. gadis pemalu yang tak berani menyuarakan isi hatinya. gadis yang tampak ketakutan ketika ada yang mendekati. ya, itu aku. aku tidak banyak berubah, kurasa. aku yang dulu memakai seragam yang sama sepanjang minggu. kau lihat sekarang. aku bisa mengganti pakaianku semauku. tapi percayalah, aku tetaplah aku yang kau kenal beberapa tahun lalu.

aku ingin menceritakan suatu hal menyakitkan. kau pasti sudah kenyang dengan cerita sedihku. tapi kumohon, hanya kau yang bisa menerimanya. aku tak butuh kau memberiku saran atau motivasi atau wejangan kata-kata dan sebagainya. aku hanya butuh kau menampung luapan emosiku. di sini.

saat ini aku berada di persinggahan yang memberiku ketenangan. aku nyaman di sini. di sini lah tempatku menumpahkan segala isi hati dan pikiranku. di sinilah aku bisa menemuimu dan meluangkan waktu untukmu.

bu, aku merasa hampa. entah kenapa aku merasa kehilangan. aku diabaikan, tak ada yang menanggapi suaraku walaupun satu gumaman. apa yang salah dariku? aku mencoba mengingat reka kehidupan beberapa masa yang lewat. seingatku tak ada yang mencurigakan. tapi kenapa tiba-tiba segalanya berubah? aku tak tahu apa yang sudah kulewatkan. bisakah waktu memberiku pertanda?

kau tahu, sudah tiga kali aku berusaha meluapkan emosi negatif lewat tangisan. aku berharap air mata yang mengalir akan membawa emosi itu turut keluar. yaa, aku merasakan emosi itu masih mencekat rongga dadaku. masih ada awan hitam bersemayam di jiwaku. masih ada tumpukan es yang belum mencair. aku ingin semua itu musnah saat ini juga. tapi fakta berkata lain. aku menginginkan sesuatu namun tak dapat kuraih.

kepada siapa lagi kuluapkan energi ini selain kepadamu, bu? aku tak punya siapa-siapa yang bisa kupercaya. semua lenyap dari pandanganku tanpa pamit. aku ragu, apakah mereka pergi sebentar, atau meninggalkanku selamanya?

aah, paranoidku kembali kambuh. aku kembali terserang psikosomatis. aku akan menuju puncak depresi. adakah yang akan mencegahku? hanya Tuhan yang tahu.

jadilah saksi dalam postingan ini, wahai Debu.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Deklarasi Suara Hati